Buku yang (Berhasil) Saya Baca di 2019

Januari 26, 2020

Entah kenapa, membaca buku tidak semudah dulu ketika masa SMA. Rasanya waktu itu mudah sekali melahap buku. Untuk saat ini, mungkin terlalu banyak terdistraksi oleh smartphone. Oke, mengkambinghitamkan smartphone hehe. Well, bagaimanapun saya tetap suka baca. Sebisa mungkin berusaha membaca buku meski kadang lebih sering baca artikel atau berita lewat hape. 

Saya bukan orang yang konsisten dalam membaca. Sesukanya saja. Kalau lagi ingin baca buku A, saya baca itu. Lalu, kalo besoknya mau baca buku B, pindah baca ke buku B. Akibatnya, ada banyak buku yang belum selesai saya baca. Meski begitu, kalau memang sedang ngebet sama suatu buku, saya bisa menyelesaikannya. Nah, ini adalah buku-buku yang berhasil saya selesaikan di tahun 2019:

Gie dan Surat-Surat yang Tersembunyi 
Ketertarikan saya pada sosok Gie adalah ketika guru sejarah semasa SMA mempertontonkan film Gie saat di kelas. Di film itu Gie diperankan oleh Nicholas Saputra, yang tentu saja sangat... tampan. Entah mengapa saya jatuh cinta sama sosok Gie. Namun kemudian saya jadi bepikir, saya ini jatuh cinta sama sosok Soe Hok Gie apa sama abang Nicholas yang memerankannya ya haha. Saya juga mengagumi idealismenya.

"Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan" -Soe Hok Gie

Well, memang menarik sosoknya. Dia adalah keturunan Tionghoa yang nasionalis dan jago sastra. Gie adalah mahasiswa Sastra Indonesia UI. Di filmnya sosok Gie tergambarkan tipe cowok aktivis, cuek, diidolakan cewek-cewek, gemar diskusi, suka mendaki gunung, cerdas, kritis, ya gambaran sempurna untuk sosok lelaki primadona kampus. Begitulah gambaran di filmnya, terlihat sempurna. 

Sayangnya, apa yang tergambarkan di film tidak sepenuhnya nyata. Maklum, film memiliki nilai komersilnya sendiri.  Gie yang di dunia nyata tidak cuek seperti di filmya. Pengakuan Mira Lesmana dan Riri Riza memang sosok Gie di filmnya masih terbawa karakter Rangga di Ada Apa dengan Cinta. Film Gie memang rilis setelah AADC. 

Di buku ini, Gie dan Surat-Surat yang Tersembunyi,  menceritakan sosok Gie diceritakan dari tulisan-tulisan Gie yang belum pernah dipublikasikan. Dalam buku ini dikisahkan Gie yang lebih realisitis. Di buku ini diceritakan bahwa Gie juga usil dan genit. Bahkan, juga diceritakan bahwa Gie punya banyak wanita!

Perihal Gendis


Buku ini berisi kumpulan puisinya eyang Sapardi Djoko Damono. Gendis dalam buku ini dikisahkan sebagai seorang anak perempuan yang kebingungan akan kedua orang tuanya. Eyang Sapardi menyebut buku itu adalah kitab puisi. Perihal Gendis yang kebingungan, ayahnya pamit pergi ke selatan, ibunya bilang menyusul ke utara. Saya menikmati puisi-puisinya eyang sebagai teman perjalanan saat ke Jogja di awal tahun 2019. Tentu tak perlu dipertanyakan keindahan katanya eyang. Sederhana, tapi mengena.

Puisi-puisi Cinta

sumber


Berkelana di Jogja, saya  menyempatkan berkunjung ke pasar buku yang ada di dekat Taman Pintar. Di sana saya mencari buku yang sekiranya cocok di selera maupun kantong. Akhirnya saya menemukan buku ini. Kumpulan puisi W.S. Rendra. Tulisannya tentang cinta, yayalah puisi cinta. Saya kagum sampai pada tahap, sepertinya saya jatuh cinta hehe. Ada tiga bagian dalam buku ini, Puber Pertama, Puber Kedua dan Puber Ketiga. Bagian tersebut seperti mengisahkan cinta pada fase-fase kehidupan yang dialami Willy (panggilan W.S. Rendra).


Masa Depan Sebuah Ilusi

sumber

Meski tidak sepenuhnya mempercayai teori-teorinya Freud, saya akui bahwa saya adalah Freudian. Memang teorinya Freud selalu penuh kontroversi di kalangan ilmuan. Alasan kenapa saya menjadi Freudian adalah karena dari teori psikoanalisisnya Freud lah saya bisa menemukan dan mengenali diri sendiri. Freud memang unik, penuh kontroversi dan pertentangan, tapi bagaimana pun masih bisa dipetik pelajaran dan teorinya masih dipakai hingga sekarang.

Di buku ini Freud mengisahkan keserakahan manusia atas obsesinya tentang masa depan. Agak sulit bagi saya memahaminya karena ini terjemahan dari Jerman-Inggris lalu Inggris-Indonesia. Memahami bahasa terjemahan saja sulit, apalagi kalau isinya adalah pemikiran Freud haha. Menariknya, di buku ini seolah relevan dengan apa yang terjadi sekarang. Padahal tulisan ini telah sekian tahun lamanya dibuat oleh Freud. Mungkin memang insting manusia sejak dulu sama, serakah dan ingin menguasai.

Tools for Social Media Marketing

sumber
 Sebenarnya sejak kuliah saya sudah ketertarikan di dunia kreatif-digital. Saya suka menulis, sosial media dan dunia digital. Sempat terbesit untuk menjadi content writer, social media strategis/marketing, digital marketing. Untuk memenuhi itu, saya pun mencari referensi mengenai hal itu. Saya membaca buku ini untuk mendapatkan gambaran tentang social media marketing. Buku ini levelnya untuk pemula. Semua hal tentang dasar-dasar marketing di sosial media dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami. Saya rasa buku ini cocok untuk pelaku bisnis online.


Kami Bukan Sarjana Kertas

Novel dan penulisnya (sumber)
Novel yang menceritakan kisah perjuangan berbagai tipe mahasiswa. Bisa relate banget sama mahasiswa, calon mahasiswa, wisudawan, pengangguran, karyawan, dan lain-lain. Isu yang diangkat adalah tentang pendidikan, sosial, pemerintahan, tenaga kerja, pemberdayaan perempuan, ya berat ya. Tenang aja, dikemasnya dengan bahasa yang santuy kok. Malah cenderung lucu-lucu nyebelin kayak doi pas baru jadian hehe.

Bumi Manusia 

sumber

 Buku ini jadi booming semenjak ada kabar akan difilmkan. Sempat menuai kontroversi karena pemeran Minke (tokoh utama novel tsb) adalah Iqbaal. Katanya Iqbaal kurang jawa lah, gak pantes lah. Saya rasa Iqbaal memerankannya dengan baik, saya pun terpukau dengan aktingnya. Tentu saja tidak bisa mencakup keseluruhan isi cerita ke dalam film. Namun, durasi 3 jam sudah dirasa cukup untuk mewakili isi bukunya. Saya agak butuh penyesuaian karena bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia di eranya. Dialek melayunya masih begitu kental.

Sebenarnya dari dulu sudah ingin membaca ini, baru kesampaian di 2019 ketika doi ngajak nonton film ini. Dan saya gak mau nonton filmnya sebelum baca bukunya. Jadilah saya ngebut baca buku setebal itu dalam waktu 3 hari. Berhasil dong. Ternyata kalo niat bisa aja sebenernya baca sampe tuntas. Asalkan tidak malas haha.

Buku ini mengisahkan Minke sebagai pribumi di masa penjajahan. Dia adalah pemuda berpendidikan yang jatuh cinta pada perempuan keturunan Belanda. Minke agak jumawa. Dia sedikit memandang rendah orang yang tidak berpendidikan. Ketika bertemu Annelise yang tidak sekolah, di situlah dia kagum. Bagaimana bisa seorang yang tidak sekolah mampu melakukan banyak hal. Sayangnya kala itu hukum Belanda amat kejam untuk pribumi.  Ia harus merelakan cintanya.

Seni Mencintai (The Art of Loving)
sumber
 Dulu sekali, saat masih di kampus, ada mata kuliah Filsafat Manusia. Salah satu referensi tambahannya adalah The Art of Loving (Seni Mencintai). Waktu itu saya masih berpikir, ya kali Filsafat Manusia tapi referensinya cinta-cintaan. Karena itu referensi tambahan, bukan utama, jadilah saya tidak membacanya. Meski sempat ada ketertarikan untuk baca, tapi waktu itu agak sulit mendapatkan versi cetak terjemahannya.

Kebetulan di bulan Oktober 2019 saya ada agenda di Jogja. Mumpung lagi di Jogja saya menyempatkan ke pasar buku untuk berburu buku tentunya. Sebenarnya saya ingin mencari bukunya Nietzsche yang berjudul Mengapa Aku Begitu Pandai. Itu adalah seri buku kecil seperti bukunya Freud. Saya ingin membelinya. Sayang sekali toko yang menjual buku itu tutup. Jadilah saya mencari seisi pasar dan tidak ada. Daripada tidak ada hasil, akhirnya say beli buku ini.

Tentang seni mencintai. Seseorang tidak bisa mencintai kalau dia tidak mempunya kapasitas untuk mencintai, kata Erich Fromm. Ada beberapa jenis cinta, seperti cinta pada orang tua, cinta pada saudara, cinta pada teman, cinta pada anak, cinta pada pasangan dan sebagainya. Kesemua cinta itu saling berkesinambungan. Saya juga jadi menemukan keheranan dulu saat jadi mahasiswa, kok bisa filsafat manusia referensinya buku cinta? Ya karena di awal bab, sebelum membahas cinta, Erich Fromm menjelaskan tentang filsafat dan hakikat manusia. Perilaku mencintai tidak bisa lepas dari pelaku cintanya yaitu manusia.


Itulah buku-buku yang berhasil saya tuntaskan baca selama 2019. Memang tidak terlalu banyak. Semoga tahun selanjutnya bisa membaca lebih banyak dan bisa memahami apa yang dibaca. Lebih lagi semoga apa yang dibaca memberi manfaat. Barangkali bacaan saya bisa menjadi inspirasi untuk buku yang akan kamu baca selanjutnya?


Sungkem
Keep Passionately Happy :)


You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram