Gunung Welirang: Pendakian Penutup 2019

Januari 04, 2020



header welirang



Pendakian Gunung Welirang ini dilakukan pada 13-15 Desember 2019. Saya sih tidak menyangka akan mendaki dua kali dalam tahun 2019 ini, setelah sebelumnya mendaki Gunung Pundak. Masalahnya, Gunung Welirang termasuk dalam kelompok gunung besar. Ketinggiannya mencapai 3156 mdpl. Bahkan Gunung Welirang adalah salah satu dari 10 gunung tertinggi di Jawa Timur. Di Gunung Pundak saja yang ketinggiannya kisaran 1000an, saya merasa lemah, apalagi ini.



       baca juga: Agustusan di Gunung Pundak

Saya sempat mencemaskan berbagai hal, tetapi doi (yang ngajak saya) meyakinkankan dan bilang,

"Terlalu banyak pertimbangan kamu, ikut aja dulu ntar liat gimana di sana"

Akhirnya saya yakin saja ikut ke pendakian Welirang. Saya diajak doi yang akan berangkat bareng teman-temannya. Kalau ditanya doi dan teman-temannya itu teman apa? Ya teman pendakian. Bukan teman sekolah/kampus/organisasi. Benar-benar ketemunya di pendakian dan mereka berjanji untuk mendaki bersama di gunung yang berbeda.

Jadilah mereka merealisasikan pendakian yang rencananya mau 2 sekaligus, Welirang dan Arjuno. Hanya saja saat eksekusi cuma Welirang, karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk merambah Arjuno juga.

Gunung Welirang dari atas (sumber)


Gila sih, langsung dua gunung?

Jadi, Gunung Welirang terletak di kawasan Tahura (taman hutan raya) R. Soerjo. Secara catatan administratif,  gunung ini terletak di perbatasan Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Pasuruan, dan Kota Batu. Dan memang, Gunung Welirang bersebelahan dengan Gunung Arjuno, Gunung Kembar I dan Gunung Kembar II. Itulah mengapa, mereka mengajak pendakian sekaligus Welirang-Arjuno. Untuk mendaki gunung Welirang ada beberapa jalur yang bisa ditempuh. Opsi jalurnya yaitu melalui Tretes, Cangar, Pacet, Lawang, Karangploso, Sumberawan, dan Purwosari.  Nah, kami memilih jalur melalui Cangar.

Jumat Sore (13 Desember 2019)
Saya dan doi berangkat dari Surabaya menuju Mojokerto pukul 14.30, naik motor. Awalnya kesepakatan kumpul di Mojokerto, rumah salah satu personel pendakian. Ternyata, ketika sampai di rumahnya (pukul 15.30), para personel sudah berangkat. Saya kurang teliti baca chat grup kalau ternyata langsung kumpul di basecamp pendakian Arjuno-Welirang. Base camp yang akan kami singgahi di Pos Pendakian Sumber Brantas, Cangar. Jadilah doi langsung tancap gas ke Cangar, Batu. Pukul 5 sore baru sampai di basecamp karena keteledoran saya *tepokjidat

pos perizinan sudah tutup :)

Rencananya (lagi), mau langsung mendaki pas malam hari. Sayangnya, pos perizinan sudah tutup dan salah satu personel perempuan lainnya sedang tidak fit kondisinya. Jadilah kami tunda besok. Ternyata keputusan yang tepat untuk memulai pendakian besoknya karena malam itu hujan deras sampai petir menggelegar. Saya tidak bisa membayangkan jika seandainya nekat mendaki malam.

Syukurlah kami diberi kesempatan istirahat. Fasilitas di base camp juga cukup memadai untuk singgah bagi pendaki. Terdapat tempat untuk istirahat, dapur, dan kamar mandi. Jika ingin menginap, dikenakan tarif sebesar Rp20.000 per malam. Sedangkan untuk tarif karcis masuk pendaki sebesar Rp11.000 per orang per hari untuk WNI dan Rp 26.000 per orang per hari untuk WNA.

IMG_20191214_054614
Pemandangan di belakang basecamp

Sabtu (14 Desember 2019)
Sebelum memulai pendakian, terlebih dahulu menuju ke start pendakian yang terletak di area ladang. Biasanya menuju ladang memakai jasa ojek atau mobil pick up (minimal 10 orang). Ada pula opsi jalan, tapi ya makan waktu. Terkadang ada pula pendaki yang memarkirkan kendaraannya di rumah penduduk yang dekat ladang, sehingga memangkas jarak menuju awal pendakian. Kebetulan pagi itu sedang tidak ada tukang ojeknya, jadi kami dibantu oleh penjaga base camp untuk menuju start dengan motoran bolak-balik. Perkiraan waktu tempuh dari base camp ke start pendakian 30 menit menggunakan motor.


Pendakian dimulai pukul 7.12, setelah semua personel kumpul dan berdoa bersama. Kami mulai menelusuri ladang. Kemudian lanjut memasuki area hutan dengan jalan setapak penuh tanaman yang menghadang di sisi kanan kiri. Trek di Welirang ini cukup menantang (setidaknya bagi saya). Pasalnya, ada banyak pohon tumbang menghadang di sepanjang trek pendakian. Ada yang megharuskan memanjat, ada pula pohon tumbang menghadang yang mengahruskan kami merayap melewati celah bagian bawah pohon yang tumbang tersebut.

Oiya, sebelumnya kami sudah mempersiapkan bekal air karena di pendakian ini tidak ada sumber air. Selain membawa air mineral kemasan, kami juga sempat mengisi dirigen dengan air dari base camp (air keran). Ya, meski rasanya agak sedikit berbeda karena kandungan mineralnya yang tinggi. Jadilah air dari base camp lebih banyak digunakan untuk memasak. Ya meski sesekali diminum juga.

Sesampainya di Pos 1, kami rehat sejenak, tidak terlalu lama. Untuk mencapai Pos 1 dari ladang ternyata begitu cepat, hanya 10 menit. Kamipun melanjutkan perjalan ke Pos 2. Nah, perjalanan dari pos 1 ke pos 2 ini memakan waktu 2 jam. Waktu yang cukup untuk menguras energi.

Tiba di Pos 2, kami meletakkan keril dan istirahat untuk makan. Tadi di basecamp hanya sekadar sarapan teh dan biskuit. Di Pos 2 ini kami masak nasi goreng ala-ala bumbu instan. Alhamdulillah nikmat, ya iyalah micin! Selesai ngaso, kami melanjutkan pendakian. Perjalanan berlanjut. Sesekali kami istirahat mengatur nafas dan memberi jeda pada kaki untuk melangkah.  Tentu saja beberapa kali berhenti karena saya atau personel perempuan satunya.

Dari Pos 2 menuju ke Pos 3 dibutuhkan waktu 1,5 jam. Ketika di Pos 3, kami kembali beristirahat sejenak. Karena kemarin hujan semalaman, jadilah trek ini agak licin. Dibutuhkan kehati-hatian ekstra dalam melangkah. Sayangnya, sepatu yang saya pakai terlalu tipis telapak atau solnya untuk pendakian. Saya pikir karena kemarin aman dipakai ke Gunung Pundak, mungkin akan berlaku sama di Welirang. Alhasil saya sempat jatuh terpleset ketika hendak memanjat batu besar. Sebuah keteledoran, sepatunya memang bukan sepatu gunung sih hehe.

Mendaki Welirang pake sepatu running, mamam tuh akibatnya :D (sumber)

 

Sampai akhirnya, kami camp di Lembah Lengkean sekitar pukul 13.30. Dibutuhkan waktu 2 jam untuk menuju Lembah Lengkean dari Pos 3. Jika ditotal waktu tempuh dari base camp hingga Lembah Lengkean sekitar 6 jam. Di Lembah Lengkean sudah banyak tenda yang terpasang di sana. Kami pun mencari tempat yang pas untuk mendirikan tenda. Nah, di Lembah Lengkean inilah titik menuju summit  Gunung Welirang, Gunung Arjuno, Gunung Kembar I dan Gunung Kembar II.



lembah lengkean
Lembah Lengkean dan tenda-tenda pendaki



Dua tenda sudah terpasang manis. Kami sempat berencana akan langsung summit siang itu juga, tapi lagi-lagi keadaan tidak memungkinkan. Sore itu hujan mengguyur, baru berhenti saat malam tiba. Kami beristirahat di tenda. Ya, mau bagaimana lagi.

Minggu (15 Desember 2019)
Dini hari sekitar pukul setengah 3 saya terbangun. Rupanya hujan lagi. Saat itu saya berharap semoga pagi nantinya cerah agar bisa mencapai puncak Welirang. Untungnya pukul  5 pagi hujan sudah berhenti. Untuk selanjutnya cuaca menjad cerah. Mungkin memang begini skenario-Nya, hehe.

Pagi dimulai dengan kami sarapan roti bakar dan teh hangat. Kami melanjutkan summit menuju puncak Kembar 1 dan Welirang. Hal penting untuk dibawa ke puncak selain perbekalan adalah masker, ini berguna agar pernafasan kita terlindungi. Ini karena di Welirang terdapat tambang belerang, jadi akan tercium menyengat baunya di beberapa titik pendakian menuju puncak.

Dari Lembah Lengkean terlihat dekat puncaknya. Ternyata, ketika summit, ampun masih jauh. Treknya pendakian tinggi dan turunan curam. Estimasi waktu dari Lembah Lengkean menuju puncak Welirang adalah 2 jam. Dengan segenap perjuangan, akhirnya sampai di puncak. Saya tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaan saya. Lebay sih, maklum pemula hehe.

Petunjuk arah ke puncak



"Kalau mau nangis gak papa, ini puncak 3000 pertamamu kan?", ucap salah satu personel pendakian.

Saya cuma brebes mili, gak sampe nangis, malu.

Anyway, coba lihat gambar di bawah ini. Adakah yang janggal?

vandalism
Jangan salah fokus


Oke, sekali lagi, jangan salah fokus sama doi hehe. Coba perhatikan, apa yang sekiranya tidak benar? Iya, tulisan di batu. Cara merusak alam tidak hanya dengan membuang sampah sembarangan atau menggunduli hutan, tapi mencoreti batu/tanaman/ benda alam lainnya juga. Sebut saja aksi tersebut dengan vandalisme. Bagaimana bisa vandalisme merusak alam? 


Bisa kita lihat, coretannya menggunakan material cat, atau mungkin correction type, entah. Ada pula yang mencoret dengan spidol. Saya tidak tahu persis kandungan zat kimia pada cat maupun spidol, mungkin anak Kimia yang lebih paham. Nah, zat kimia tersebut bisa saja membawa dampak negatif bagi batunya. Mungkin tidak besar, mungkin dampaknya akan dalam jangka waktu lama. Namun, apa salahnya memelihara agar semua baik-baik saja. Lagi pula, secara estetika, coretan tersebut juga merusak keindahan batu secara alami.  Jadi kurang bagus dipandang maupun difoto hehe. Kalau mau corat-coret atau membuat kenangan, tulis saja di kertas atau gawai. Kan lebih enak, tidak merusak keindahan. Asalkan kertasnya dibawa pulang juga, tidak dibuang sembarangan. 

Nih kertas kosongan, biar bisa diedit :D (sumber)



Kami berfoto-foto dan bersantai di puncak sekitar satu jam. Setelah puas, kami memutuskan turun dan kembali ke tenda untuk makan siang. Ternyata urusan turun juga gak kalah menantangnya. Turunannya curam, harus hati-hati karena risiko kepleset.

Makan siang menjadi agenda yang langsung dilakukan begitu sampai di tenda.  Setelahnya, kami rehat sejenak untuk kemudian beberes peralatan dan persiapan turun.





Di Lembah Lengkean, persiapan turun
 (Dari kiri ke kanan: Mas Syai'in, Mbak Fike, Saya, Izzul, Mas Hanif)


Kemudian, kami turun kembali ke asal. Pulang ke tujuan masing-masing. Begitulah, sesuatu yang saya kira tidak mungkin dan menakutkan, ternyata bisa saya lewati meski dengan segenap perjuangan. Terima kasih sudah membaca kisah ini :)

Ringkasan waktu tempuh:
Surabaya-Base camp Cangar: 2,5 jam
Base camp-Ladang: 30 menit
Ladang-Pos 1: 10 menit
Pos 1-Pos 2: 2 jam
Pos 2-Pos 3: 1,5 jam
Pos 3-Lembah Lengkean: 2 jam
Total waktu base camp-Lembah Lengkean: +- 6 jam
Lembah Lengkean-Puncak Welirang: 2 jam 
Total waktu base camp-puncak: +- 8 jam


Sungkem
Keep passionately happy :)



Sumber Gambar:
Galeri HP saya, personil pendakian lainnya, serta sumber lainnya link tertera di caption




 

You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram