Loh, Kok Nikah?

Oktober 23, 2020


 

Saya takut menikah. Sungguh. Realita yang saya lihat, kasus yang saya temui, cerita-cerita yang saya dengar dan baca, membuat saya berpikir pernikahan itu sesuatu yang sangat menyeramkan dan liar. Setahun lalu, saya masih belum benar-benar siap menikah. Meskipun di tahun lalu saya juga resmi melepas status jomblo akut, saya masih tetap merasa belum siap menikah. Entah keberuntungan atau memang takdir, pacar saya adalah orang yang memang sejak awal sudah mau serius untuk ke jenjang pernikahan.

Ketika pacar (yang sekarang jadi suami) ngajak saya nikah, saya bilang belum siap. Hanya saja, sudah ada pertemuan antar dua keluarga. Kebetulan ada pandemi Covid-19, jadi penentuan tanggal pernikahan sempat tertunda. Di hari-hari itu saya punya waktu untuk menata diri, berusaha menguatkan mental dan mencari tahu mengapa saya takut menikah padahal ada laki-laki baik yang mau serius pada saya.

Ada hal-hal yang saya takutkan mengenai pernikahan. Saya sempat konsultasi kepada beberapa teman. Selain itu saya juga mencari tahu melalui internet. Pada akhirnya saya menemukan satu kesimpulan: ketakutan itu sarangnya ada di pikiran. Jadi, untuk menangani rasa takut itu kuncinya ada pada setting pemikiran. 

Saya kemudian mengurai apa-apa yang menjadi ketakutan saya. Dari setiap teman yang saya tanya (beberapa di antaranya sudah menikah), hampir selalu menyarankan untuk membicarakan persoalan ketakutan saya dengan pasangan. Bagaimana pun, pernikahan adalah kehidupan berdua saya dan pasangan. Tentunya hal itu sangat kontekstual karena akan berbeda pada setiap pasangan. Kesepakatan dan kompromi kedua pihak adalah kuncinya. 

Pernikahan itu sakral, tidak main-main. Perlu persiapan yang matang. Saya pun membuat daftar apa saja yang perlu dipersiapkan. Berikut hal-hal yang dipersiapkan:

  • Dokumen pernikahan
  • Cek kesehatan
  • Bimbingan perkawinan
  • Vendor-vendor pernikahan

Dokumen pernikahan yang diperlukan dari hasil browsing dan tanya-tanya:

  • Surat Pengantar RT/RW
  • Surat Pengantar Kelurahan
  • Pas foto latar biru 2 x 3 sebanyak 5 lembar
  • Pas foto latar biru 4 x 6 sebanyak 2 lembar
  • N1 alias Surat Pengantar Nikah yang didapat dari kelurahan/desa
  • N3 alias Surat Persetujuan Mempelai, juga dapat dari kelurahan/desa
  • Fotokopi Ijazah yang ada nama orang tua (SMA/SMP/SD)
  • Fotokopi KTP calon pengantin 
  • Fotokopi KTP kedua orang tua
  • Fotokopi KK
  • Fotokopi Akta Lahir

Hehe :)

 

Sederhana sebenarnya. Setelah mendapat pengantar dari RT, lalu menuju ke kelurahan. Di kelurahan akan mendapatkan berkas N1 dan N3. Kemudian seluruh berkasnya sepasang calon pengantin dibawa ke KUA untuk didaftarkan. KUA akan mencatat dan memberikan invoice untuk membayar biaya pernikahan melalui bank persepsi. Setelah bayar, kembali ke KUA untuk menyerahkan slip bukti bayar. Urusan dokumen kelar, tinggal nunggu akad. 

Kebetulan waktu itu saya yang membawakan berkasnya ke KUA. Lalu si petugas KUA bilang, 

"Mbak bisa hadir tanggal 22?"

"Ada apa Pak?", saya balas. 

"Ada bimwin. Bimbingan perkawinan untuk para calon mempelai. Mumpung ini diadakan. Kesempatan yang bagus"

"Ini program semacam bimbingan konseling untuk membangun keluarga yang sakinah mawaddah warahmah", kata petugas lainnya menambahkan. Terlihat dia memakai jas almamater sebuah Universitas Islam di Surabaya. Mungkin sedang magang/PKL.

 

Undangan dari KUA

 

Saya pun mengiyakan, tapi si mas pacar belum tentu bisa. Langsung saya chat doi, untuk tanya apa bisa tanggal 22 September menghadiri acara bimbingan pernikahan. Sempat saya bertanya, apakah boleh hanya saya saja yang hadir. Beliau menjawab tidak apa-apa, tapi lebih baik kalau bisa datang keduanya. Hahaha jawaban diplomatis klasik. 

Alhamdulillah doi bisa datang. Jadinya kami sebagai calon pengantin bisa menghadiri bimbingan perkawinan. Bimbingan terdiri dari dua sesi yakni dari Kemenag dan dari dokter. Sesi Kemenag menjelaskan tentang pernikahan dan rumah tangga dalam basis Islam. Sedangkan sesi dokter menjelaskan tentang kesehatan reproduksi, hamil-melahirkan serta laktasi. Bimbingan dimulai pukul setengah sepuluh (meski di undangan pukul 8) dan selesai sehabis duhur atau sekitar pukul 12 siang. 

Bimbingan perkawinan KUA

 

Bimbingan perkawinan selesai. Sebenarnya yang saya inginkan sih lebih ke bimbingan pranikah ke psikolog. Hanya saja, selain udah gak ada waktu karena ribet ngurusin ini itu, di Sampang juga gak ada psikolog hahaha. Yasudah anggap saja cukup dengan bimbingan perkawinan dari KUA, setidaknya petugas tersebut telah memberi pandangan mengenai kehidupan berumah tangga. 

Dan bimbingan perkawinan ini adalah hari terakhir saya bertemu mas pacar sebelum jadi sepasang pengantin. Setelah itu kami dipingit. Tahu gimana rasanya dipingit? Entahlah, menjelang hari pernikahan itu rasanya rindu berat, kangen luar biasa, sampe gak paham lagi pokoknya.  Pengen ketemu, tapi ya gak bisa. Yasudah, sabar saja insyallah bertemu di pelaminan :)

By the way, kami menikah di Sampang. Kami sama-sama orang Sampang, teman SMP haha. Sementara, aktivitasnya di Surabaya. Jadi ya gitu, ngurus pernikahannya wara-wiri Sampang - Surabaya. 

Lalu, lanjut untuk cek kesehatan pranikah. Ini agak membingungkan bagi saya. Di kota lain seperti Surabaya dan Jakarta, diwajibkan bagi calon pengantin melakukan cek kesehatan pranikah di puskesmas. Hal itu jadi persyaratan yang nantinya akan mendapatkan semacam kartu layak kawin dari puskesmas. Kebetulan di kota saya, Sampang, tidak diwajibkan. Ya Saya tetap merasa cek kesehatan itu penting. Jadilah saya inisiatif untuk cek kesehatan sendiri.

Tidak begitu yakin ada fasilitas cek kesehatan pranikah di puskesmas Sampang, saya pikir langsung minta suntik TT (tetanus) saja. Ketika saya ke puskesmas, saya langsung mengutarakan bahwa akan suntik TT. Petugas loket langsung paham, "buat nikah ya?" dan saya pun mengiyakan. Sebenarnya komponen check up pranikah di puskesmas ada cek gigi, konsultasi gizi, skrining HIV, cek tensi golongan darah, dsb. 

Hanya saja, karena Covid ini, praktik dokter gigi dibatasi. Saya rasa cukuplah dulu dengan suntik TT. Kalau mau cek lengkap untuk pranikah sih bisa aja di rumah sakit, tapi mihil. Di puskesmas ini bisa gratis, kalau memakai BPJS. Sayangnya, BPJS saya faskes Surabaya. Jadi tetap bayar karena pakai umum. Tentunya tidak terlalu mahal, rincian biaya check up saya sebagai pasien umum:

Biaya loket: Rp2.000

Cek lab: Rp14.000

Tebus tablet tambah darah: Rp20.000

Total: Rp36.000


Saya diarahkan ke poli KIA. Ternyata sebelum suntik TT saya diukur tinggi dan berat badannya kemudian diarahkan untuk ke lab. untuk cek darah dan Hb. Alhamdulillah malah dapet cek lab. Setelah dari lab. saya kembali ke ruang KIA, diukur tensinya lalu barulah suntik TT. Alhamdulillah suntik TT kelar. Berhubung tadi pas cek tekanan darah ternyata darah saya rendah, jadinya dikasi tablet tambah darah :)

Dokter di puskesmas tersebut menjelaskan bahwa sebenarnya sejak SD kita sudah mendapat suntik TT dari program pemerintah. Suntik TT pranikah ini bisa untuk suntik lanjutan untuk menambah kekebalan. Saya juga ditanya, pernah suntik waktu SD, seinget saya pernah SD dan SMP, tapi saya tidak tahu itu suntik apa. Dokternya yakin bahwa itu suntik TT, jadilah suntuik saya kemarin masuk ke TT 3 karena sudah mendapatkan 2 kali suntik TT sebelumnya. Gak ngerti? yaudahlah ya, intinya masalah suntik TT kelar :D

 

Dapet ini setelah check up

Persiapan kelar. Vendor-vendor juga sudah saya booking dan dp. Mungkin untuk vendor bikin pos berbeda kali ya. Selama ini saya cari referensi vendor pernikahan di Sampang jarang ada ulasan di blog. Nemunya kebanyakan di sosial media. 



Alhamdulillah acara berjalan lancar. Doi mengucapkan ijab qobul dengan lantang dan tegas. Kami sah sebagai sepasang suami istri. Menikah sederhana di rumah, dihadiri keluarga, tetangga dan teman-teman. Akad saja, tanpa resepsi. Biarlah orang berkata, 

"Sekali seumur hidup lho masa gak eman (acaranya gitu aja)"

 Ya gimana, aslinya saya pengen nikah simpel di KUA aja kelar hahah. Cuma ya karena ada keluarga tentunya perlu diadakan acara semacam syukuran. Alhamdulillah cukup di akad saja. Ini memang pernikahan impian saya, simple and intimate wedding. Saya dan suami memiliki pemikiran yang sama mengenai acara pernikahan. Saya tidak bermaksud bersyukur akan adanya Covid, tapi pandemi ini memberikan hikmah kepada kita untuk mengetahui mana yang penting dan esensial serta mana yang tidak perlu.


Sungkem

Keep passionately happy :)



You Might Also Like

0 komentar

Silakan berkomentar, terima kasih sudah menyampaikan dengan sopan :)

My Instagram

Instagram